pupur dan gincu

matahari perlahan tampak dan embun menipis, lalu perempuan mengawali hari. ritual mini untuk bentuk persepsi, penataan citra diri.

diputihkan kulitnya (bahasa halusnya; pencerahan). agar ia terlihat bersih. dimerahkan pipi dan bibirnya. agar ia terkesan segar. dia lukis wajahnya, pasang topeng untuk peran hari ini. hari esok dan kemarin membawa topeng yang berbeda.

perempuan konsumsi massa, sesuaikan citranya bagi semua mata. pembodohan atas logika. pembodohan atas rasa. jalani hari dengan penipuan. karena manusia senang ditipu.

ketika matahari tak tampak lagi, maka tirai pentas hari diturunkan. pertunjukan berakhir dan saatnya tiba kembali jujur pada diri. lepas topeng perlahan sedikit demi sedikit, dan pertanyaan-pertanyaan membanjiri seketip sel abu-abu di balik paras. ketika pemirsa tiada, siapa saya?

………tulisan ini terpicu oleh banyak hal. yang pertama, kenapa ya perempuan suka sekali mempercantik diri? lebih besar alasan pribadi atau lebih karena tuntutan budaya dan masyarakat? yang kedua, kenapa ya, perempuan seringkali lebih suka menempelkan identitasnya pada entitas di luar dirinya? mungkin tulisannya jadi nggak fokus dan merembet kemana-mana, tapi mungkin memang gue belum menangkap esensinya keperempuanan? oh iya…terpicu juga oleh beberapa komentar yang mengatakan bahwa tingkah laku gue kurang perempuan. maka gue jadi bingung, apa yang disebut perempuan? ada yang bisa jawab?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s