… jeda ini cuma mampu bawa bisu. suatu ruang kedap yang tak terisi.

makna pun jauh dari momen ini. seketika kehilangan kapasitas untuk tampung muatan sedikitpun. cuma kosong.

iba aku pada aksara-aksara, pada gelisah dan kalut mereka ketika tiada cerita yang perlu dialir. mereka seperti prajurit siap perang, tapi belum punya alasan untuk maju…atau bahkan bertahan. menunggu dimaknai, berbaris siaga namun sayangnya tersia.

…aku ingin membuat teman-teman aksaraku ini menari lagi…aku ingin beri mereka hidup meskipun cuma satu detik staccato yang awalnya sekaligus menandai akhirnya…aku ingin hunus pedang penaku dan buat kertas putih ini berdarah, bersuara, menjerit, menangis, tertawa…

aku rindu kantin bobrok di pinggir jalan sudirman, dengan latar belakang musik yang terlalu keras hingga perlu berteriak untuk sekedar berbincang. aku rindu percakapan menjelang pagi tentang hidup, cinta dan cita-cita. aku rindu tawa keras, humor sarkastis dan penuh celaan. aku rindu koneksi. anggukan kecil dari ujung ruangan, sapaan selintas lalu yang cuma satu suku kata, lirikan kecil dalam suatu momen yang sungguhnya insignifikan. … tapi penuh makna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s