…PussyCAT doll

Tampaknya emak bapak saya udah nggak sabar ingin punya cucu. Beberapa kali hal ini disinggung dan sekian kali pula saya menanggapinya dengan cengar-cengir ala kura-kura dalam perahu (pura-pura tidak tahu).

Hasrat mereka semakin kentara ketika keluarga kami memutuskan mengadopsi seekor kucing kampung (sebenarnya si kucing itu yang secara sepihak dan semena-mena mendeklarasikan bahwa rumah kami = rumah dia).
Kucing ini secara khusus memang bukan orang kucing asing bagi kami. Kalau masih ingat cerita di posting sebelumnya tentang tem, bubu, kunkun + mamahnya, kucing sok asik ini adalah si kunkun dalam cerita tersebut. Jadi memang dia cukup sering main ke rumah, dan disambut dengan cukup ramah oleh segenap anggota keluarga.
Lama kelamaan dia keenakan. Setiap jam makan entah mengapa dia selalu sukses nongol di bawah meja makan (cerdasnyaaa kucing ini). Ikut nonton tv sama prt di rumah saya. Bahkan dia suka iseng nyelisip2 masuk lemari.
Kucing ini tidak sepenuhnya nggak tau diri sih. Sesekali dia ‘membalas budi’ dengan caranya sendiri : menangkap tikus. Diletakkannya tikus yang sudah almarhum itu, terkapar di luar rumah, seperti mau bilang “ini upah kalian untuk ngasih makan saya 2 minggu ke depan”.
Oke, mulai ngelantur. Apa hubungannya pengen punya cucu sama kucing ajaib? Karenaaaa sejak jaman dahulu kala ibu saya itu paling anti sama makhluk bernama kucing. Tapi kucing ini direlakannya tidur di kamar bapak ibu saya, seperti anak bayi.
Dan secinta2nya bapak saya sama kucing, nggak pernah sampai dia rela MENCUCIKAN PIRING MAKANAN SI KUCING. Bahkan piring makanan miliknya sendiri nggak pernah dicuci sama bapak saya.

Tau kan bagaimana kakek nenek itu selalu bangga sama hal2 paling kecil yang dilakukan cucunya? Bahkan ketika cucunya pup di atas baju kakek neneknya yang paling mahal pun bagi mereka adalah sesuatu yang sangat menggemaskan. “Ih opa opa liat deh si schaatje pup di atas baju oma yang Prada. Pinter banget sih maunya pup di atas barang mahal. Cucu siapa dulu dooong”. Gitu kali kira2 pembicaraannya ya.
Bapak ibu saya punya reaksi yang sama pada si kunkun. Setiap kali temperamen bapak saya agak kumat, atau ibu saya lagi bete di kantor, cerita2 kecil mengenai kenakalan si kunkun di hari itu selalu sukses membuat mereka tersenyum kembali.
Teman saya bilang “wah, ndied, beneran pengen cucu itu artinya”. Astaganaga. Matilah saya.
Selain saya sering mati gaya di depan anak kecil, rasanya lahir bathin kok ya belum siap untuk memunculkan andied-andied kecil di dunia ini.
Saya masih terlalu egois dan terlalu apatis. Gimana mau ngajarin anaknya kalau ibunya juga belum (sepenuhnya) matang?

Jadi ma, pa, berapa ekor kucing yang kalian mau (sambil menunggu)?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s