Telur Setengah Matang

Hari ini saya rindu sekali sarapan telur setengah matang
Aroma telur setengah matang selalu mengingatkan saya akan pagi hari di rumah nenek dan kakek saya : Uti dan Aung.
Sarapan sederhana di sebuah ruang makan mungil, mengitari meja bundar bermandi sinar matahari mengintip dari balik jendela.
Penuh cinta. Sederhana.

…Keluarga.

Mungkin rindu ini muncul karena untuk kesekian kalinya Aung harus dirawat inap di rumah sakit. Usianya 84, sudah tidak muda. Meski begitu sampai 1 tahun lalu dia selalu berusaha mengerjakan sendiri semua pekerjaan rumah. Memperbaiki pipa kamar mandi, mengganti lampu yang mati, membuat kap lampu, dan entah apa lagi. Terkadang malah lebih merepotkan bagi kami, karena fisiknya yang renta sudah terlalu rapuh.

Namun bagaimana kita meredupkan jiwa yang masih membara? Ketika raga sudah menyerah namun jiwa belum mau kalah?

Aung senantiasa menjadi sosok yang menginspirasi, dan berjasa besar. Untuk saya, adik saya, dan mama. Dari beliau saya belajar pentingnya kerja keras, pantang menyerah, disiplin, integritas, serta semangat untuk selalu belajar dan berkarya. Bahwa hidup adalah perjalanan yang tak kenal akhir, dan setiap hari adalah perjuangan mencapai makna diri. Dari beliau saya memperoleh hasrat yang selalu haus akan pengetahuan, dan beliau pula yang mengenalkan saya pada benda ajaib bernama ensiklopedia. Beliau membuka dunia bagi saya, dan membiarkan saya bermain sepuasnya.

Maka untuk pejuang yang tak kenal lelah, saya menitipkan doa kepada semesta…

2 thoughts on “Telur Setengah Matang

  1. Pingback: Aroma Pagi « Nonsense & a Cup of Cake

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s