Memilih

Lelah dan muak dengan orang-orang berkepala sempit yang menganggap perbedaan adalah justifikasi yang cukup untuk membenci.
Lelah dan muak dengan orang-orang pongah yang merasa dirinya secara absolut sudah paling benar, dan orang lain HARUS KUDU WAJIB mengikuti cara mereka.
Lelah dan muak dengan orang-orang berhati kecil yang membiarkan dirinya terhanyut ikut arus, tanpa analisa dan kontemplasi.
Lelah dan muak dengan orang-orang yang merasa berhak menginjak-injak hak hidup orang lain.
…dan lebih lelah dan muak dengan orang-orang yang melihat semua hal di atas, tapi memilih untuk tidak melakukan apa-apa.

Saya pernah bilang : hidup adalah perjalanan. Tapi lebih dari itu, hidup adalah pilihan.
Jangan harap perjalanan ini dilengkapi dengan jasa travel agent yang sudah menyiapkan paket tur 4 hari 3 malam ke berbagai destinasi wisata terbaik, dimana kita tinggal duduk letakkan pantat di transportasi yang telah disediakan, turun di tempat-tempat persinggahan lalu tinggal mejeng pose foto-foto sambil cengar-cengir. Mentok-mentok cuma ada buku panduan –itupun tidak resmi- mengenai milestones yang oke untuk dikunjungi, yang berdasarkan pengalaman banyak orang rasanya kurang lengkap kalau tidak dikunjungi. Sekolah sampai SMA, kuliah, kerja, menikah, punya anak, punya cucu, dsb dsb en the blablabla. Dan berdasarkan pengalaman banyak orang sebelumnya juga, ada waktu-waktu tertentu yang dianggap paling pas untuk mengunjungi berbagai tempat tujuan itu. Maka kemudian saatnya memilih, rute terbaik untuk perjalanan ini. Mau kesini dulu apa kesana dulu, trus mau mampir disini berapa lama, lokasi mana saja yang gak perlu didatangi, dan seterusnya dan seterusnya.
Bedanya manusia sama binatang, kita tidak semata digerakkan instink. Ada proses kognisi lebih kompleks yang berperan dalam pembuatan keputusan, yang akhirnya diwujudkan dalam pilihan dan tindakan kita. Dan proses ini buat saya adalah privilege, karena memberi kesempatan kita untuk semakin mengenal diri, semakin jujur pada diri dan akhirnya semakin memperbaiki diri. Evolusi mini dalam semesta diri.
Lalu ketika sekelompok orang merasa berhak menentukan pilihan yang terbaik untuk orang lain, dan MEMAKSA (bahkan dengan kekerasan) agar orang lain memilih hal tersebut, apakah mereka bukannya justru tidak memanusiakan manusia?

2 thoughts on “Memilih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s