Suka Lupa

Entah kenapa Indonesia sepertinya punya penyakit lupa yang sungguh akut.
Berulang menahun secara konsisten, kita selalu terhanyut mengelu-elu berbagai pahlawan. Benam dalam euphoria, menjerit hura-hura, mengibarkan panji-panji di kala mereka jaya. Dan secepat itu pula sorak sorai mereda, seiring padamnya sisa-sisa letupan terakhir kembang api kemenangan. Begitu seterusnya sampai ada “pahlawan” edisi terbaru yang muncul lagi.
Waktu itu saya pernah lihat liputan tentang mantan-mantan atlet yang dulu membela nama bangsa, lalu setelah lewat masa jaya kesejahteraannya diabaikan. Bahkan ada yang akhirnya bekerja di SPBU. Memang benar bahwa atlet adalah profesi yang memiliki masa kadaluwarsa, dan cukup singkat pula. Namun bukankah menjadi tanggung jawab pemerintah juga untuk memberikan pembekalan dan bimbingan bagi para pensiunan atlet ini?
Para pahlawan revolusi yang kita elu-elu di buku-buku sejarah, pada akhirnya menjadi cuma sebatas itu : rentetan nama-nama dan peristiwa. Sedangkan nilai-nilai yang mereka perjuangkan turut lapuk dan memudar bersama dengan tinta cetakan di buku sejarah itu. Habis diinjak-injak untuk kepentingan pribadi dan golongan.
Dan saya curiga begitu juga yang akan berlaku untuk timnas sepakbola Indonesia. Ketika kemarin-kemarin prestasi mereka sedang gemilang, mendadak semua jadi cinta setengah mati. Sampai-sampai kaos timnas sold out, sampai-sampai rusuh berebut karcis nonton final, sampai-sampai rusuh berebut tampil jadi pahlawan (kesiangan) untuk ‘mendukung’ timnas. …lalu ketika performa menurun, mendadak orang-orang sibuk mencaci maki.
Hadeeeeehhhh…. Cape deh!
Buat gue, nasionalisme bukan cuma mengelu dikala jaya. Apalagi ketika ujung masih jauh. Masih ada waktu, dan bukan saatnya untuk terduduk gagu.
Kakek saya pernah bilang : “seseorang diukur bukan dari keberhasilannya, namun dari kemampuannya untuk bangkit pasca terjatuh”. Dalai Lama juga pernah mengutip : “almost no victory is permanent, nor any loss”.
Jadi buat apa terlarut-larut dalam euphoria kemenangan atau tersuruk-suruk dalam hancurnya kekalahan? Jalan masih panjang, dan PR kita masih banyak. Bukan berarti tidak perlu mendukung timnas ya, justru saat ini mungkin mereka sangat butuh dukungan semangat. Tapi mungkin kita yang perlu ingat, bahwa ini bukan (cuma) masalah menang-kalah. Rasanya akan lebih membanggakan untuk menyaksikan mereka berjuang sekuat tenaga, daripada menghabiskan waktu mencari-cari alasan atas kekalahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s