seputar pasrah-pasrahan

“It might not be the right time, I might not be the right one.”
– Daft Punk : Something About Us

Baru-baru ini ada diskusi yang cukup intens di Paguyuban Perempuan Labil cabang Tangerang Depok dan sekitarnya, sehubungan dengan kata-kata “pasrah”. Diskusi panjang dan berlarut-larut yang nggak kunjung selesai, tepatnya. Karena ternyata pasrah itu kok ya susah bener. Sumpe, suse.
Badai otak antara beberapa orang perempuan ini sudah cukup hebat sebenernya, sampe basah kedinginan cari-cari trik apa lagi yang bisa dipakai untuk bisa mencapai si “pasrah” ini. Mulai dari saran umum yang masuk akal, saran berlandaskan teori dan UUD 45, saran yang dibungkus dengan berbagai analogi seru seram menegangkan, sampai saran yang tampaknya sudah terlalu absurd untuk kata-kata.
Masalahnya apa lagi kalau bukan Budi. Hahayyy… tahun sudah berlalu dan tetap si Budi datang mengganggu. Dan perempuan-perempuan ini tampaknya kurang dibekali dengan senjata yang cocok untuk membasmi Budi dari muka bumi…atau setidaknya menjinakkan para Budi-Budi ini agar menjadi Budi Baik dan Budi Pekerti.
Tapi yaaaah….hfffttttt ya sudahlahhh… memang pasrah itu adanya di hati, bukan di mulut. Mau sampe berbusa-busa kita bilang : “iya udah pasrah kok”, atau mau “bernafas dengan sadar” sampe nafasnya habis pun, kalau pada dasarnya emang masih ada yang mengganjal, ya itu maaaah bukan pasrah dooong yaaaaaa….
Jadi teringat juga tentang janji saya sama neng yang satu ini, untuk posting film-film romcom pilihan saya (haduh in, utang gw lama juga yak…maap)… dan ternyata eh ternyata, ada prevailing topic dalam shortlist saya. See if you can notice :

    When Harry Met Sally
    Definitely Maybe
    Addicted to Love
    New York I Love You
    A Lot Like Love

Yup, 4 dari 5 film di atas, ceritanya tentang orang-orang dengan chemistry bombastis yang entah kenapa nggak pernah aja ketemu di saat yang tepat. Mungkin yang satu lagi punya pacar, atau mungkin salah satunya lagi nggak pengen aja berhubungan serius (uhuk, uhuk), atau mungkin terhalangi berbagai benteng-benteng ajaib lainnya (beda agama, beda suku, beda ideologi politik, beda planet, beda ukuran sepatu atau apapunlah). Terus akhirnya si dua tokoh –yang sebenernya utama namun disamarkan- dalam film itu menjalani hidup masing-masing aja, bertemu macam-macam orang, sampe akhirnya…. JEGERRRRRRRR di penghujung film mereka bersatu kembali. Awwww so syiiiittt…
Mmm bukan bermaksud untuk bilang bahwa misalnya ada satu manusia di hati anda saat ini terus suatu hari nanti kalian PASTI BAKAL end up dengan satu sama lain sih. Karena meskipun initial chemistry adalah modal yang cukup berharga dalam sebuah hubungan, tapi itu BUKAN SEGALANYA, dan bisa menghilang kalau nggak dijaga. Lebih tepatnya mungkin suatu hubungan bisa berhasil ketika ada sinergi antara ORANG YANG TEPAT di WAKTU YANG TEPAT. Orang yang lo tapsir habis-habisan kemaren mungkin sudah bukan pribadi yang sama ketika ketemu lagi misalnya delapan tahun kemudian. Dan mungkin apa yang lo cari di sebuah pasangan juga udah bukan hal yang sama.
So my dear friend (yeah you know who you are), nothing more I can say than this : …just…let…it…flow…
Disclaimer : tulisan di atas adalah kompilasi dari berbagai sesi curhat dengan berbagai manusia di sekitar saya. Kemiripan peristiwa ataupun nama BISA JADI DISENGAJA. *kaburrrlangkahseribu*

2 thoughts on “seputar pasrah-pasrahan

  1. nah gue pasrah aja deh kalo gini caranya.. (efek abis membaca kalimat : right person on the right time) tapi sepasrah2nya sih (kalo gue)tetep aja bertanya2, tetep aja grusuk2,
    tetep aja minim usaha tapi ngarep maksimal..

    pasrah emang susah yaa ndied, lebih susah lagi kalo di gue adalah : membebaska diri dari segala bentuk prasangka dan pertanda2 yang membuat gue bertanya2 dan berharap2.. PR gue bertambah deh :))

    thanks for sharing🙂

    • Bwahahaha gw suka kalimat ini “membebaskan diri dari segala bentuk prasangka dan pertanda2 yang membuat gue bertanya2 dan berharap2” … Menurut gw sih sekalinya kita udah berharap, maka otomatis hal sekecil dan se-gak penting apapun bakal ‘dianggap’ sebagai pertanda. Padahal sih, belum chencyuuuu… Hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s