waking life

orang datang dan pergi. beberapa mungkin kembali, tapi tak jarang yang pergi untuk selamanya.
beberapa hari ini sudah terlalu banyak yang permisi.

dan seketika kembali diingatkan betapa semua cuma sementara.

dari kecil, ajal bukan sesuatu yang akrab. saya cukup beruntung bahwa hampir belum ada keluarga inti yang direnggut ajal. i’ve had the privilege of having a circle of unconditional love around me continuously.

then again, unconditional does not mean it’s without time restrictions.

dan mendadak saya takut.

two strong women passed away yesterday. one was a family member, the other a new friend. both were remarkably strong, vibrant, full of life. kenangan orang-orang tentang mereka adalah cerita-cerita kekuatan dan keberanian. mereka perempuan yang tidak takut untuk hidup sepenuh-penuhnya. they fully lived until the very end, and loved the same way too.

ketika akhir waktu saya tiba nanti, bisakah saya berkata ‘cukup’ ? bisakah saya ‘pergi’ tanpa penyesalan, tanpa ganjalan, tanpa memanggul berbagai tanda tanya dalam diri yang belum terjawab?

dan perempuan-perempuan ini menyisakan orang-orang yang begitu mencintai mereka. orang-orang yang mendadak terlumpuhkan, terbisukan, tergagukan tanpa hadirnya mereka.

ketika saya ditinggalkan nanti, bisakah saya berkata ‘cukup’? bisakah saya merelakan tanpa penyesalan, tanpa ganjalan, tanpa memendam berbagai tanda tanya dalam diri yang belum terjawab?

lalu teringat dua orang paling penting dalam hidup saya.

20111128-223623.jpg

saya beruntung belajar banyak dari mereka. tentang etos kerja, tentang integritas, tentang hidup. tapi ah, seandainya masih bisa belajar lebih banyak. rasanya masih banyak kisah yang ingin saya gali. tentang perjumpaan mereka, tentang bagaimana mereka masih begitu saling jatuh cinta, tentang mengapa aung begitu tertarik dengan komputer, dan pengalaman uti jadi pembalap perempuan.

aung, di ulang tahun ke 86 kemarin, masih berbinar-binar melihat teknologi iPad dan minta dibelikan satu. laki-laki ini, yang dulu membiarkan saya duduk di pangkuannya setiap saya minta main snooker di komputer. komputer yang masih menggunakan floppy disk ukuran besar yang harus dikunci. laki-laki ini, yang dulu mengajarkan saya menggunakan komputer. yang minta dibelikan laptop supaya bisa tetap mengetik sambil menemani istrinya nonton sinetron. yang minta dibelikan kaca pembesar supaya bisa melihat huruf di layar komputer.

uti, di usia 81, masih berbinar-binar melihat cucunya punya baju baru, sepatu baru, tas baru, dan percentilan lainnya. perempuan ini, yang dulu setiap tahun menjahitkan satu gaun spesial untuk ulang tahun cucu perempuannya. yang menjahit bed cover & tirai untuk kamar cucu-cucunya. yang membuat macaroni schotel terenak di dunia. yang menyimpan kebaya & kain tunangan anaknya untuk suatu hari dipakai cucunya. perempuan ini juga, atlet basket yang jago dansa, dan pernah jadi pembalap. yang meski sudah kehilangan nyaris semua fungsi bicara, tetap berusaha keras melafalkan ‘ulang tahun’ untuk anak cucunya.

saya yakin mereka masih punya banyak cerita yang belum saya dengar. nasihat yang belum sempat disampaikan, dan mungkin tidak akan pernah karena berbagai keterbatasan.

sekarang cuma berharap, saya bisa membuat mereka bangga dan bahagia. supaya suatu saat, kami sama-sama bisa berkata ‘cukup’. tanpa penyesalan, tanpa ganjalan, tanpa gumpalan tanda tanya yang belum terjawab.

2 thoughts on “waking life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s