Dinas vs Tamasya

Di kantor yang lama, perjalanan dinas selalu saya sambut dengan riang gembira. Kenapa? Karena eh karena, biasanya perjalanan dinas itu berupa sosialisasi kebijakan sehingga tidak makan banyak waktu. Pun umumnya dilakukan menjelang weekend.

Alhasil, biasanya saya request penerbangan kepulangannya diundur ke hari minggu, supaya bisa puas sightseeing dan jalan-jalan. I consider it trip HRATIS melihat-lihat tempat baru. Can’t complain, right?

‘Utilisasi’ perjalanan dinas yang paling menyenangkan buat saya adalah :

  1. Melanjutkan perjalanan ke Toraja (extend dari Makassar)
  2. Naik bis ke Singapura sepulang training di Malaka
  3. Keliling kota Surabaya, yang sebelumnya belum pernah saya explore

Memang belum banyak sih, tapi ya saya bersyukur banget, karena kesemua kota itu baru untuk saya, dan mungkin belum tentu saya akan pergi kesana kalau bukan untuk urusan kerjaan.

Semenjak negara tetangga pemilik kantor lama semakin menancapkan kuku dan taring berjudul “COST EFFI” maka akhirnya perjalanan yang nyaman dengan naik maskapai nomor 1 di Indonesia, terpaksa digantikan bersempit-sempit di maskapai budget asal si negeri tetangga ituh. Plussss pekerjaan saya lama-lama semakin sedikit menuntut saya jalan-jalan untuk sosialisasi.

Setelah resign dan pindah ke kantor yang baru ini, saya bahagia setelah diiming-imiingi kata-kata “akan sering dinas ke luar kota”, “banyak remote area” dan “GA***A”. Otomatis terpikirkan banyak pelosok Indonesia yang bisa saya jelajahi. Pulau Sikuai, Pulau Menjangan, Derawan, kyaaaaa….

Ternyata…

Di kantor ini, perjalanan dinas dilakukan relatif dadakan. Wakwaow moment buat saya adalah ketika ternyata mayoritas perjalanan dinas dilakukan DI PERTENGAHAN MINGGU. *byebye exteeeend* Cuti? Nyaris tidak mungkin karena saya kan anak baru, belum setahun kerja, dan lagi nabung-nabung cuti untuk honeymoon.

So this is what my business trips so far looked like :

  1. JKT-PKU-JKT berangkat Selasa subuh pulang Rabu sore. Jadwal full, nggak liat apa-apa selain hotel, bandara, kantor. Makan aja nasi box.
  2. JKT-PLM-JKT berangkat (lupa hari apa) subuh, pulang di hari yang sama sore.
  3. JKT-CGK-JKT berangkat Selasa siang pulang Kamis malam. jadwal full tapi masih lumayan makan malam bisa di luar.

Ihiks….

Moral of the story : you win some, you lose some. In my case I win a little (upgraded airline class & new local destinations), but lost what really mattered to me : schedule flexibility.

Be careful what you wish for.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s