Monday Morning Boost

Pagi ini bisa jadi salah satu pagi terburuk yang pernah saya alami. Namun hidup selalu punya cara untuk mengajak kita berkenalan dengan perspektif yang berbeda.

Masih Ada Harapan di Indonesia

Blogwalking ke beberapa akun yang selama ini dicap sebagai “inspiratif”. Saya dulu nggak pernah terlalu tertarik ikut-ikutan sesuatu yang dihebo-hebohkan oleh orang kebanyakan, makanya mungkin baru sekarang mampir ke blognya Diana Rikasari. Beberapa tahun lalu sempat lihat sekilas, saya kira isinya cuma foto-foto Outfit of The Day.  Tapi saat saya lihat blognya tadi, I think she may be a very good role model for young Indonesians. Remaja zaman sekarang lebih banyak mengejar fame, sepertinya super bangga kalau bisa terkenal, bahkan untuk hal paling remeh sekalipun. But I don’t think fame is Diana’s goal. Instead, it’s only her vehicle to do good and to achieve great things, not only for herself but also for others.

The same goes for Alanda Kariza, from where I also got the link to this blog and this blog

Di sini saya menemukan anak-anak muda Indonesia yang cerdas dan punya semangat untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik. Termasuk juga diskusi dan pembedahan teoritis berbagai teori politik dan budaya. Ya saya sih nggak ngerti-ngerti amat juga sebenarnya apa yang dibahas, tapi saya rasa dengan semangat dan kecerdasan semacam ini, semoga menjadi bibit awal untuk kemajuan bangsa di masa depan.

Seni Tanpa Pigura

Mungkin terjemahan yang terlalu harafiah.

Dari salah satu blog inspirasional di atas, saya memperoleh link mengenai sebuah eksperimen yang diadakan The Washington Post :

Salah satu pemain biola terbaik dunia, diminta untuk bermain di stasiun kereta pada jam padat. Ternyata dari sekitar 1000 orang yang lalu lalang selama 45 menit permainan biolanya, hanya 7 orang yang berhenti untuk mendengarkan.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Ya itu tadi. “Art without a frame”. Kasarnya mungkin begini, jika suatu karya tidak diberikan label sebagai karya seni, apakah orang-orang bisa memberikan apresiasi yang sama?

Ternyata tidak. Beberapa hari sebelum eksperimen tersebut, Joshua Bell, si pemain biola, baru saja mengadakan konser dengan harga karcis US$ 100 per orang. Pada hari dia bermain di stasiun Metro, dia hanya memperoleh US$ 32.17. Tiga puluh dua dolar dan tujuh belas sen.

siapa yang akan mengingatkan dia ketika ternyata di dunia ini sudah tak ada lagi manusia? cuma robot-robot kota yang digerakkan tangan tak kasat mata…

Hasil interview terhadap orang-orang yang ada disana pada hari itu mengingatkan saya betapa manusia modern seringkali tenggelam (atau tepatnya tanpa sadar menjerumuskan diri) dalam autopilot mode sampai pada titik dimana dia tidak lagi “menghidupi” dirinya.

Satu-satunya pola demografis yang bisa dipetakan karena reaksinya konsisten pada saat mendengar musik adalah : anak-anak.

Every single time a child walked past, he or she tried to stop and watch. And every single time, a parent scooted the kid away.

The poet Billy Collins once laughingly observed that all babies are born with a knowledge of poetry, because the lub-dub of the mother’s heart is in iambic meter. Then, Collins said, life slowly starts to choke the poetry out of us. It may be true with music, too.

Dear future child, I promise I will be the kind of parent who nurtures the music & poetry inside of you. And listens to it with you. 

Terkadang kita terlalu nyaman dengan hal-hal yang kita tahu hingga lupa untuk memperhatikan dan mengapresiasi hal-hal baru di sekitar kita.

And then there was Calvin Myint. …he had no memory that there had been a musician anywhere in sight.

There’s nothing wrong with Myint’s hearing. He had buds in his ear. He was listening to his iPod.

For many of us, the explosion in technology has perversely limited, not expanded, our exposure to new experiences. Increasingly, we get our news from sources that think as we already do. And with iPods, we hear what we already know; we program our own playlists.

Beberapa hari lalu saya juga menyadari bahwa saya mungkin serupa dengan Myint. Saya memilih untuk memutar lagu-lagu yang sudah akrab di telinga saya, dan reaksi awal ketika mendengar lagu baru dengan aliran yang agak berbeda adalah “aneh ah, enakan lagu tahun 90an”.

Meskipun memang selalu nyaman untuk kembali ke hal-hal yang sudah akrab, namun flipsidenya tentu bahwa kita terbatasi dan tidak mengenal hal serta perspektif baru. It’s as simple as adding a new album to your playlist every month. 

Tolonglah Diri Sendiri

Kembali ke pagi yang buruk ini, saya merasa sangat berterima kasih (dan sekaligus tertampar) oleh posting berikut :

“jadikanlah shalat dan sabar sebagai penolongmu”

There is always room for hope. And improvement.

Here’s to being a better person.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s