Siapkah Beranak?

Alangkah lucunya ketika di suatu siang terima email dari suami berisi :

1st day period : xx November 2012

sikulus xx hari

Next period : xx December 2012

Masa subur : xx – xx December 2012

Note :

asam folat & zinc : brokoli alpukat kacang2an bayam telur gandum susu strawberry pusang

no junkfood, no seafood, no barbeque, no coffee, no soda

teh maksimal 2 cangkir sehari

cemilan diganti buah

Sedangkan empunya rahim belum browsing apapun :p Somebody may evolve to be a rabid daddy sometime soon.

Anyway, beberapa hari lalu sambil nunggu pesanan datang di sebuah restoran pizza, melihat dua skenario parenting yang sangat berbeda. Di adegan pertama, seorang ibu dengan dua anak mengantri pesan take out. Anak yang paling kecil (kira-kira kelas 4 SD) minta izin ke toilet, lalu si Ibu dan kakaknya memesan pizza. Setelah sekitar 15 menit, si adik ini kembali sambil merengek minta pulang karena dia kebelet pipis dan tidak berhasil menemukan toilet. Si ibu tiba-tiba malah teriak-teriak memaki anak ini sambil bilang :

ih bego banget sih kamu, dari tadi ngapain aja? tanya dong sama mbaknya toilet dimana, kayak nggak punya mulut aja sih?

Akhirnya anak itu dicubit, dijewer, dan disuruh menunggu di luar restoran sambil menahan pipis karena pesanan pizza mereka belum datang. Si ibu yang masih di dalam restoran terus berlanjut mengomel sambil menjelek-jelekkan si adik kepada kasir restoran dengan suara cukup keras hingga bisa terdengar oleh saya yang berjarak sekitar 5 meter darinya.

Masih di restoran yang sama, pada meja di depan saya ada sebuah keluarga muda : ayah, ibu dan putrinya berusia sekitar 2 tahun. Anak ini menunjuk-nunjuk pizza ibunya lalu menunjuk mulutnya, mungkin dia penasaran apa rasanya. Si ibu mencoba memberi pengertian bahwa makanan itu masih terlalu panas. Tapi si anak kayaknya penasaran banget sampai mulai loncat-loncat dan terus menunjuk makanan. Akhirnya ibunya mengalah dong ya, disuapin ke anaknya meski pake ditiup-tiup dulu. Ternyata memang benar kata ibunya, terlalu panas hingga anak ini mangap-mangap dengan sosis separuh terkunyah di dalam mulut *ewww* dan akhirnya … SOSIS DILEPEH KE PIRING IBUNYA, di atas pizza yang sedang dimakan si ibu. Ibu bapaknya cuma saling pandang sambil ketawa-ketawa ngenes gitu.

Sesudah itu, si anak nggak kapok, tetap mau coba makan pizza panas, meskipun kali ini dia keukeuh mau potong & suap sendiri. Berhubung crust pizza kan agak kenyal ya, jadinya setiap kali ini anak berusaha “memotong” pakai garpu yang ada malah itu garpu membal-membal ke atas. Ya namanya motorik juga belum sempurna kan untuk aktivitas rumit semacam memotong pakai garpu, kadang-kadang malah jadi berisik centrang-centrang piringnya. Canggihnya, lagi-lagi pasangan muda ini cuma saling pandang sambil nyengir-nyengir malu ke meja sebelah yang mulai melirik mereka. Si ibu mengalihkan perhatian anaknya, lalu si bapak dengan sigap mengambil piring dan memotongkan pizza kecil-kecil.

Kalau saya yang jadi orang tua dalam kedua skenario diatas, pasti kesal sih ya.

Di skenario pertama, saya bisa paham bahwa ibunya gemas. Untuk anak seumur 9-10 tahunan, bukan hal yang terlalu rumit untuk bertanya lokasi toilet kepada petugas. Then again, ini tergantung juga pada beberapa hal. Apakah anak ini sangat pemalu dan tidak berani berbicara dengan orang luar? Atau mungkin ibunya memang tidak membiasakan agar anaknya proaktif bertanya? Atau bisa jadi anaknya sudah ke toilet tapi kurang nyaman dengan layout dan perlengkapan toilet umum yang pasti nggak senyaman toilet rumah. Apapun, buat saya yang nggak wajar adalah bahwa ibu itu merasa perlu membentak-bentak anaknya, dan bukannya memberikan solusi malah “menghukum” anaknya untuk menahan pipis.

Saya pribadi mungkin akan lebih frustrasi di skenario kedua daripada skenario pertama. Bayangin dooong lagi enak-enak makan, terus dilepehin sosis benyek. Apalagi anak seusia gitu kan lebih susah diberi pemahaman yaa… Tapi canggih deh orang tuanya, sabar banget. Salut lah saya…

Kayaknya satu hal yang penting banget buat saya pelajari sebelum nanti beranak : dengan adanya tanggung jawab atas satu manusia yang punya kehendak bebasnya sendiri, maka sering kali akan muncul situasi di luar rencana dan dugaan kita. Kaget, kesal, itu wajar banget ya. Tapi nampaknya penting memampukan diri sendiri (dan pasangan) untuk bisa mentertawakan diri sendiri dan saling kasih semangat buat sing sabar yoo.

Abis kalau dipikir-pikir, si ibu di skenario pertama itu mungkin cepet naik darah dan kesambet bentak-bentak anak karena nggak ditemenin suaminya kali ya? After all, one of my friends once said :

esensi sumami adalah orang yang bisa membuat kita waras selamanya

So, yeah, I WILL need my pawang to hold my hand through this amazing journey.

One thought on “Siapkah Beranak?

  1. kasus 1 sih emang ga bener.
    sebaiknya langsung dipraktekkan apa yg sang ibu sarankan.

    kasus kedua, tergantung juga.
    tp so far udah oke lah.
    makanan “sisa”?? kadang aye sih cuek aja ngabisin potongan ayam dr babeh yg mnrt saya msh bnyk sisa daging nya.
    hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s