Umur Nggak Bisa Bohong

Weekend kemarin ada outing team Human Capital di kantor. Komposisi peserta cukup bervariasi, ada 30% tim senior, 40% middle management, dan sisanya masih super junior alias seger-seger masih bau kampus. 

Agendanya selain workshop dan rencana kerja 2013, pastinya ada pula malam keakraban alias sarana katarsis pelepas stress kerja. Panitia menetapkan temanya adalah : 

80’s rock

Waseeekkk, gampang lah ini persiapannya. Referensi lagu jelas sudah hafal luar kepala, jiwa rocker sudah mendarah daging, tinggal tampilan luar aja dipoles biar meyakinkan. Layaknya malam keakraban pada umumnya, pasti wajib ada kuis dan performance adu putus urat malu. 

Ketika tiba hari H, coba tebak apa yang terjadi? Ternyata yang semangat nyanyi karaoke 80’s cuma sedikit banget. Sisanya ada yang jaim, ada yang nggak tahu lagunya, ada yang…udah ngantuk (padahal baru jam 10 malem). Anak-anak ODP (program MT khusus team Human Capital) yang saya prediksi akan super heboh di malam itu, kok juga pada lempeng aja mukanya. Lalu saya asumsi dong, mungkin karena mereka dari daerah (for the note, mereka semua berasal dari luar Jakarta, dan nggak semuanya dari kota besar) jadi ya beda selera lagu aja kali ya. Akhirnya saya kasih catatan ke diri sendiri, siapa tahu besok-besok didapuk jadi panitia, harus pilih tema dan lagu-lagu yang masuk ke semua lapisan, jangan cuma “selera Jakarta”.

Masuk ke sesi kuis, ternyata bocah-bocah mungil ini kok semakin datar? Padahal pertanyaannya seru-seru lho :

  1. Apa tagline TVRI?
  2. Apa kepanjangan dari ACI?
  3. Film seri apa saja yang biasa ditayangkan malam hari di RCTI?

Tapi…. kenapa mereka nggak bisa jawab? Bahkan nebak pun nggak bisa?

Akhirnya iseng dong bertanya ke salah satu dari mereka :

Kamu nggak tahu sama sekali ya soal-soal kuisnya?

Nggak Mbak

Memang kamu lahir tahun berapa sih?

Tahun 90 Mbak

Haaaah!!!! Apaaaa!?!?!?!

Jadi kamu nggak pernah merasakan masa ketika TVRI adalah satu-satunya saluran televisi yang bisa ditonton? Kamu nggak nonton Thundercats atau He-Man? Kamu nggak tahu apa rasanya lagi asyik nonton film Layar Emas dan harus rela dipotong oleh Dunia Dalam Berita atau siaran khusus yang menceritakan panjang lebar “instruksi bapak presiden”? 

Ini adalah generasi yang selalu punya pilihan. Ketika mereka sudah cukup usia untuk menonton televisi, mereka bebas memilih di antara lebih dari tiga saluran televisi. Wow.

Pada detik itu aku merasa sungguh tua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s