Bali, Baby! – ngUbud

Where We Stayed

Bumi Muwa, Jl. Monkey Forest

Silakan klik link di atas ya untuk masuk ke website Bumi Muwa. Kami memilih hotel tersebut dengan pertimbangan lokasi yang strategis (tepat di jalan Monkey Forest), lalu kamarnya bersih dan terkesan homey, dan yang paling penting harganya nggak bikin sakit hati.

Pas sampai sana, kami nyusurin Monkey Forest Road dong dengan PD. Satu kali… dua kali… kok nggak ketemu ya tempatnya? Akhirnya menyerah dan telpon ke hotelnya, katanya mereka akan samperin kita karena parkirnya valet. Barang bawaan kita yang cuma sedikit itu dibawain, sambil kami ngikutin bli concierge-nya dari belakang. Tapi lho, lho, lho kok dia masuk gang?!? Gang ini beneran gang, cuma muat satu motor lah kira-kira, diapit oleh sebuah toko kain (apa penjahit ya?) dan sebuah toko kelontong. Maaaas saya mau dibawa kemana ini?

Ternyata penampilan awal memang menipu, lho. Dibalik gang senggol itu rupanya ada miniatur surga. *halahlebay hahaha. Di Bumi Muwa ini kamarnya nggak banyak, mungkin sekitar 20an. Area reception kecil seperlunya, begitu juga area sarapan yang berupa pendopo kecil di tengah kebun. Tapi meski serba mini, bisa dibilang sebenarnya lengkap karena apa yang kita butuhkan ada di sana. Yang paling penting : bersih dan rapi.

Menurut saya siapapun empunya Bumi Muwa ini cerdas ya. Untuk mengakali space yang seuprit dan sebenarnya diapit banyak gedung, mereka banyak main di landscaping supaya tamu nggak merasa sumpek. Pepohonan dan taman yang ada berfungsi juga untuk menyembunyikan gedung-gedung di sebelah kanan dan kiri. Kamarnya sih cukup besar, mungkin sekitar 5×5 termasuk kamar mandi dalam. Ada balkon, free wifi, free cable TV, sama DVD player (DVD gak termasuk ya, tapi di jalan Monkey Forest ada yang jualan kok). Kamar mandi cukup bersih, dan ada air panas.

Kami dapat free breakfast dengan beberapa pilihan : American Style (ada 2 jenis), Continental Style & Indonesian Style. American style breakfast termasuk 2 butir telur (bisa pilih mau dadar, ceplok, rebus, rebus setengah matang), 2 potong roti, teh/kopi/jus dan sosis ayam. Kita juga bisa pilih, mau makan di area sarapan atau dibawa ke kamar. Kami pilih makan di balkon supaya bisa lebih puas menikmati pemandangan.

Overall, hotel ini recommended banget. Simple, bagus, bersih, lengkap, lokasi strategis dan nggak mahal.

20130517-114822.jpg

The alleyway to Bumi Muwa

20130517-115328.jpg

Stairway to Heaven

20130517-115247.jpg

A charming corner in our room

20130517-115436.jpg

Lotus seeds. This is what’s left after the petals have wilted.

20130517-115507.jpg

Lotus bloom

20130517-115403.jpg

Breakfast corner

Where We Ate

Kafe Batan Waru

Kafe ini letaknya di Jalan Dewi Sita yang tidak jauh dari Monkey Forest. Sepanjang jalan ini banyak sekali toko dan kafe kecil dengan aneka dekor menarik. Pokoknya pasti bikin pengen mampir deh. Kenapa kami ke sini? Karena suami saya sukanya minta ampun sama sop buntut di kafe ini.

apaaaaa? di bali makan sop buntut?!?

Harap maklum ya, urusan perut si abang ini kurang avonturir. Jadi buat dia makanan yang enak cuma Hoka-Hoka Bento, KFC, sama masakan istrinya (halah hahaha). Selain lokasinya yang stratehis, kafe ini pun open air sehingga nggak gerah, sekaligus bisa leye-leye sambil people watching. Jadi kalau capek sehabis jalan kaki menyusuri Ubud, kita bisa istirahat di sini. Sepenglihatan saya yang datang kok jarang orang lokal ya, dan mayoritas memang datang sendirian lalu berlama-lama di sini sambil baca buku, browsing atau ngobrol-ngobrol. The staff is super friendly and the drinks are so nice, so this is a great place to lounge around.

CinTa Grill & Inn

CinTa Grill ini direkomendasikan oleh si calon adik ipar, katanya steak nya enak. Setelah kami browsing, ternyata CinTa ini masih satu grup sama kafe Batan Waru, di bawah bendera Bali Good Food. Berhubung jaraknya cuma beberapa langkah dari hotel maka malam itu langsung kita coba. Kami pesan rib eye steak, tenderloin steak, dan ditutup dengan Dutch Apple Pie. Sumpah ini apple pie juara buanget! Endeus. Dan dimulailah fase si abang jatuh cinta dengan dessert berjudul apple pie. Suasana di CinTa ini mirip banget dengan Batan Waru : staffnya hangat & ramah, makanan enak, open air juga. Yang berbeda cuma jenis makanannya. Meskipun nggak ada live band, tapi kami kebagian denger live band di kafe sebelahnya yang sama-sama open air. Buat yang mau honeymoon di Ubud dan pengen keluar untuk mamam-mamam romantis, tempat ini layak dikunjungi.

Where We Went

KOU & KOU Cuisine

Pertama kali saya lihat Kou waktu dulu bulmad di Ubud, karena letaknya sangat dekat dengan kafe Batan Waru. Tertarik dengan storefront yang simpel dan minimalis, langsung saya masuk. Ternyata Kou ini menjual aneka sabun batang homemade, bath salts, dan beberapa asesoris mandi. Rangkaian aroma yang mereka keluarkan sangat khas Bali dan Indonesia, seperti melati, mawar, kembang sepatu, kamboja, dan semacamnya.

Meski aroma produknya sangat Indonesia, tapi model tokonya justru sangat Jepang. Turis yang datang juga banyak dari Jepang. Hebatnya, para pelayan toko mampu melayani pelanggan asing dengan bahasa Jepang dan Inggris yang cukup fasih. Sejujurnya kalau bahasa Jepang sih saya nggak bisa menilai fasih atau nggak, ya wong saya nggak bisa bahasa Jepang bwahahaha, tapi minimal dari baca raut muka turis Jepangnya, mereka manggut-manggut tanpa mengerut. Bisa disimpulkan mereka lumayan ngerti dong apa yang diomongin sama mbaknya. Usut punya usut yang punya Kou ini ternyata pasangan suami istri. Suaminya orang Bali, istrinya orang Jepang. Keren ya bisa memadukan kedua warisan budaya dengan pas dan unik. Japan simplicity & technology meets Indonesian natural diversity.

Di toko Kou saya juga melihat ada selai homemade, tapi tidak bisa dicoba. Menurut informasi dari penjaga tokonya kalau mau coba harus ke Kou Cuisine yang memang fokusnya menjual produk berupa makanan. Waktu itu saya nggak berhasil menemukan dimana letaknya toko itu. Untungnya ada review Living Loving tentang Kou Cuisine, sehingga akhirnya kemarin berhasil juga nemu.

Langsung deh borong 4 botol selai :

  • Milk & Caramel – rasanya sangat manis, persis seperti susu kental manis dengan sedikit aroma karamel
  • Grape & Buni – yang ini tart & tangy. Tahu buah buni yang merah kecil-kecil itu kan? Nah buah buni ini dicampur dengan rasa anggur sehingga hasilnya agak kecut dan bikin kemecer
  • Passionfruit & Tangerine – untuk yang suka orange marmalade, pasti akan suka juga selai yang ini. Bedanya kalau marmalade sedikit pahit dan “tebal”, sedangkan selai Kou ini lebih ringan dan segar karena dicampur dengan buah markisa
  • Mango – naaah ini favorit saya. Gimana ya cara menggambarkannya, rasanya persis seperti jus mangga harumanis yang sangat kental.

Dari semua selai itu, sepertinya Mango yang memang akan jadi menu sarapan. Milk caramel saya berikan ke sepupu untuk oleh-oleh karena dia memang suka makanan manis. Sedangkan dua lainnya kurang cocok untuk sarapan buat saya yang gampang kena maag ini, tapi sepertinya akan saya coba untuk dipadu dengan cupcakes. Nyam!

Kou – Jalan Dewi Saraswati, Ubud

Kou Cuisine – Jalan Monkey Forest, Ubud

3 thoughts on “Bali, Baby! – ngUbud

  1. Andied, hotelnya charming banget yaa..
    Terus jadi penasaran sama selai buah buni, dulu deket rumah gw ada pohon buni gede yang rajin berbuah sayangnya sekarang udah digusur jadi rumah orang :”(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s