2011, in retrospect

I know it’s the 2nd week of 2012, and i know the last-year-wrap-up-post is clichè, and well I guess I don’t really care. The thing is, I find it kind of hard to start fresh without being sure where I currently stand. And thanks to this short term memory of mine, I just need to put it in writing as some kind of reminder, some kind of monument.

The year started as usual, with the “I will move on” resolution. It was a slow climb, although at first I thought I’d gotten somewhere. Eventually I didn’t.

Thankfully then came the trips. Oh the trips. Old places, new places, old friends, new friends, and a lot of new experiences.

Then came the concerts. Two of my favorite singer/songwriters, old faves, new bands, and a rocking festival.

Then came the challenging project at work, the grueling days of overtime and finally the success afterwards, which was truly a good example of getting by with a little (make that a LOT of) help from my friends.

ah yes, there were my friends, who have been enduring me and standing by me, not only throughout 2011, but also long before, some dating back to 1999. To you, beautiful souls, I give the credit of my survival from this year.

In between, there was too much room that I spared for all the drama. I wish I hadn’t, I wish I was a little wiser, but then again I was never smart enough to handle feelings. There was the misinterpretation of things, followed by pure stubbornness on my side (is that a word, by the way?), and then in the end there was just me standing amidst the ruins of my supposedly formidable fortress.

2011, had its ups and a whole lot of downs. I hope I learnt a lesson.
2012, you may bring it on.

waking life

orang datang dan pergi. beberapa mungkin kembali, tapi tak jarang yang pergi untuk selamanya.
beberapa hari ini sudah terlalu banyak yang permisi.

dan seketika kembali diingatkan betapa semua cuma sementara.

dari kecil, ajal bukan sesuatu yang akrab. saya cukup beruntung bahwa hampir belum ada keluarga inti yang direnggut ajal. i’ve had the privilege of having a circle of unconditional love around me continuously.

then again, unconditional does not mean it’s without time restrictions.

dan mendadak saya takut.

two strong women passed away yesterday. one was a family member, the other a new friend. both were remarkably strong, vibrant, full of life. kenangan orang-orang tentang mereka adalah cerita-cerita kekuatan dan keberanian. mereka perempuan yang tidak takut untuk hidup sepenuh-penuhnya. they fully lived until the very end, and loved the same way too.

ketika akhir waktu saya tiba nanti, bisakah saya berkata ‘cukup’ ? bisakah saya ‘pergi’ tanpa penyesalan, tanpa ganjalan, tanpa memanggul berbagai tanda tanya dalam diri yang belum terjawab?

dan perempuan-perempuan ini menyisakan orang-orang yang begitu mencintai mereka. orang-orang yang mendadak terlumpuhkan, terbisukan, tergagukan tanpa hadirnya mereka.

ketika saya ditinggalkan nanti, bisakah saya berkata ‘cukup’? bisakah saya merelakan tanpa penyesalan, tanpa ganjalan, tanpa memendam berbagai tanda tanya dalam diri yang belum terjawab?

lalu teringat dua orang paling penting dalam hidup saya.

20111128-223623.jpg

saya beruntung belajar banyak dari mereka. tentang etos kerja, tentang integritas, tentang hidup. tapi ah, seandainya masih bisa belajar lebih banyak. rasanya masih banyak kisah yang ingin saya gali. tentang perjumpaan mereka, tentang bagaimana mereka masih begitu saling jatuh cinta, tentang mengapa aung begitu tertarik dengan komputer, dan pengalaman uti jadi pembalap perempuan.

aung, di ulang tahun ke 86 kemarin, masih berbinar-binar melihat teknologi iPad dan minta dibelikan satu. laki-laki ini, yang dulu membiarkan saya duduk di pangkuannya setiap saya minta main snooker di komputer. komputer yang masih menggunakan floppy disk ukuran besar yang harus dikunci. laki-laki ini, yang dulu mengajarkan saya menggunakan komputer. yang minta dibelikan laptop supaya bisa tetap mengetik sambil menemani istrinya nonton sinetron. yang minta dibelikan kaca pembesar supaya bisa melihat huruf di layar komputer.

uti, di usia 81, masih berbinar-binar melihat cucunya punya baju baru, sepatu baru, tas baru, dan percentilan lainnya. perempuan ini, yang dulu setiap tahun menjahitkan satu gaun spesial untuk ulang tahun cucu perempuannya. yang menjahit bed cover & tirai untuk kamar cucu-cucunya. yang membuat macaroni schotel terenak di dunia. yang menyimpan kebaya & kain tunangan anaknya untuk suatu hari dipakai cucunya. perempuan ini juga, atlet basket yang jago dansa, dan pernah jadi pembalap. yang meski sudah kehilangan nyaris semua fungsi bicara, tetap berusaha keras melafalkan ‘ulang tahun’ untuk anak cucunya.

saya yakin mereka masih punya banyak cerita yang belum saya dengar. nasihat yang belum sempat disampaikan, dan mungkin tidak akan pernah karena berbagai keterbatasan.

sekarang cuma berharap, saya bisa membuat mereka bangga dan bahagia. supaya suatu saat, kami sama-sama bisa berkata ‘cukup’. tanpa penyesalan, tanpa ganjalan, tanpa gumpalan tanda tanya yang belum terjawab.

secuplik surga

Surga itu pulang dari kerjaan hectic lalu disambut :
quality time leyeleye pelukpeluk cengar cengir
sesi belanja menggila bersama teman-teman terbaik
dijemput dua lakilaki terpenting dalam hidup – kitonk & sibabeh
ngobril ngalor ngidul jam satu pagi sekeluarga – lengkap sama satu ekor kucing tengil yang cari fokus terus

Thank you all, you beautiful, wonderful people ♥

Jahat vs Bego

Percakapan 2 orang dewasa tanggung, sebut saja namanya Bunga (biar gampang jadikanlah bunga1 dan bunga2).

Bunga1 : (sehabis berkisah panjang lebar seputar sepak terjang dunia percintaan dengan oknum bernama… ah mari kita sebut saja kumbang1) “…jadi gimana menurut lo?”
Bunga2 : “Kondisinya sih jelas, antara jahat sama bego”
Bunga1 terlihat geregetan : “Masa gw udah cerita lengkap kayak tadi lo masih gak bisa menilai dia jahat atau bego?”
Bunga2 jelas lebih geregetan : “Bisa kok. Jelas. Antara jahat sama bego. Dia jahat. Elo bego.”
Bunga1 : “…” (dan sekali lagi mengukuhkan kebegoannya)

(your) Most Valuable Possession

Saya suka Ben Folds.

Koreksi : SAYA CINTE MATI SAMA MAMANG BEN.

Dan oleh karena itu, entah dari mana harus mulai berkisah tentang “most valuable possession” saya saat inih : euphoria nongton konser mamang ben. LIVE. BUKAN di DVD. *aaaaak mau mati sesak nafas*

Lebay? Belum cencyuuuh. Begini, bayangkan seorang remaja perempuan tanggung yang sangat biasa-biasa saja. Tidak terlalu khusus dalam hal apapun. Bayangkan betapa di usia itu dia sedang mulai membentuk jati dirinya, dan hal-hal yang diakrabinya di usia itu akan sangat berperan besar dalam proses pembentukan itu.

Yak, di usia itu, saya akrab betul sama Ben Folds Five. Band ajaib yang isinya cuma piano, bass dan drum. Permainan piano yang terkadang trining-trining manis menenangkan dan skillful, tapi juga mendadak suka jembrang jembreng rusuh. Ditemani distorsi bass. Cuma main bertiga tapi ramenya minta ampun. Lalu, yang utama : lirik-lirik sarkastis mentertawakan diri sendiri, cerita-cerita random yang dikisahkan dengan lucu. Nyam nyam nyaaammm… ah aku sukaaa.

Menonton Ben Folds LIVE, sebenernya masuk salah satu bucket list saya. Soalnya dulu itu, sama sekali nggak berani berharap Ben Folds (baik dengan embel-embel Five maupun sendiri) akan pernah datang ke Indonesia, jadi kayaknya kalaupun mau nonton harus pergi ke luar negeri (dan itu pan mahaaaaal).

Meskipun beberapa lagu lumayan terkenal di Indonesia (apalagi Brick yang dulu jadi backsound Dear Diary-nya Prambors), tapi Ben Folds nggak punya banyak hits yang masuk top 40 dan dikenal banyak orang. Jadi kayaknya (saya kira) massanya nggak akan terlalu banyak disini. Dan oleh karena itu juga, saya seneng setengah mati kalau ketemu sesama pecinta Ben Folds.

Tapi ternyataaa semesta yang baik ini berkata lain. Dari awal 2011 sempat rame isu-isu pergosipan di twitter yang bilang Ben Folds mau dateng. Tapi daripada berharap ketinggian terus akhirnya kecewa, jadi sok-sok cuek. Sampai akhirnyaaaaah si Ben Folds sendiri yang nulis di twitternya bahwa dia mau datang ke Jakarta. Masaoloh maesaroooh!!!! *melongo* *sibuk itung duit*

20111129-233725.jpg

Setelah semuanya semakin jelas dan pasti, akhirnya diperoleh sebuah tanggal baik yaitu 26 Mei 2011. Dan tanggal itu sungguhlah baik karena keesokan harinya si babeh ulangtaun. Dan berhubung dahulu babeh sayalah yang pertama memperkenalkan saya pada album “Whatever & Ever Amen” nya Ben Folds Five, maka sepertinya pas sekali kalau saya berikan karcis menonton Ben Folds sebagai hadiah ulangtaun babeh kan? (padahal cari temen)

Demi mengantisipasi Jakarta macet dan kerjaan dadakan yang suka datang di penghujung hari kerja, maka saya pun sengaja CUTI di hari itu. Lalu sengaja berangkat 1,5 jam lebih awal karena acaranya di Kuningan dan takutnya macet. Dan entah mengapa, hari itu sama sekali nggak macet. Yang artinya kami datang di venue 1,5 jam lebih awal. Terus bingung mau ngapain. *jedaaaang* Untungnya di sana malah jadi semacam reuni mini dengan banyak teman yang sesama pecinta Ben Folds, jadi tidaklah terlalu mati gaya.

Dan akhirnya konser dimulai. Di panggung cuma ada 1 piano. Beberapa highlight yang masih bikin saya euphoria sampai saat ini :

  1. Ben Folds masuk, langsung main tanpa basa-basi : “If there’s a God, He’s laughing at us” – EFFINGTON! Dilanjutkan dengan Annie Waits + Sentimental Guy. Trus mulailah dia ngobril-ngobril sama penonton, bahas smoke machine yang entah kenapa ditaro di sblah pianonya. Sampai akhirnya gw jejeritan “Play Smoooke!” …and he played it. Dan ternyata lagu Smoke nggak ada di original set listnya. Meskipun saya yakin bukan cuma saya sendiri yang tiba-tiba teriak “smoke”, tapi rasanya seolah-olah saya punya andil gituh. Dan takjub aja lihat si Ben Folds mendadak impulsif nurut sama penonton-penonton yang banyak maunya ini.
  2. Di lagu “You Don’t Know Me” yang aslinya dia nyanyikan duet sama Regina Spektor, dia ngajak penonton sing along. Tapi memang dasar para penonton ini suka terlalu berinisiatif (sebagaimana dicontohkan pada poin pertama), jadi bahkan di bagian-bagian yang nggak disuruh nyanyi kita tetep nyanyi. Bahkan sampe ada yang bagi suara segala. Mimik kagetnya si Ben Folds di lagu itu priceless banget, dan bisa dilihat di video berikuts.
  3. Dahuluuu kala sekitar tahun 2002, saya bersama seorang teman sesama pecinta Ben Folds sedang gandrung-gandrungnya *saelaaah GANDRUNG* dengerin album “Ben Folds Live”. Terutama track “Army”, dimana dia membagi penonton jadi 2 untuk gantian menyanyikan bagian horn section di track aslinya. Dan bahkan buat kami berdua yang saat itu cuma bisa dengerin dari kasetnya (iya waktu itu belinya masih bentuk kaset), part itu terdengar sangat menyenangkan. Nah kita berdua waktu itu suka berkhayal-khayal, kayak apa yah rasanya kalau kita jadi bagian dari penonton yang disuruh ikut nyanyi juga. … Lalu… Lalu… Guess what, setelah 9 tahun, akhirnya khayalan itu beneran kejadian. For the both of us. Maaaaakkkkkk, Andied ikutan nyanyi lagu Army sambil nonton mamang Ben maaaakkkk… *nangiskejer*
  4. Si mamang Ben mendadak jamming sendiri sambil bikin lagu impromptu tentang Indonesia… He’s a real entertainer indeed.

Mmh…mmh… Trus apa lagi yaaah. Aaah terlalu banyaaaak. Terlalu banyak hal menyenangkan di malam itu. Rasanya nggak pengen pulang. Pengen terus-terusan menonton sang idola nyanyi sambil main piano. Pengen terus menikmati interaksi mamang Ben yang sangat down to earth & hangat dengan para penonton. POKOKNYA GAK MAU PULAAAANG!!! *melotot* …hosh hosh hosh…
But yeah, all good things must come to an end. So does this night. Malam ini akan tetap menjadi salah satu malam terbaik dalam hidup saya. *masihgakrelaharuspulang*
Terima kasih semuanyaaah.
Terima kasih papah yang sudah memperkenalkan saya sama Ben Folds Five.
Terima kasih teman-teman yang selalu menginformasikan update-update terbaru soal mamang Ben Folds.
Terima kasih ismaya yang mendatangkan Ben Folds.
Dan pastinyah… Terima kasih semesta yang membuktikan bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin. :)

… Nah… Berikutnya…
Mari menabung untuk beli box set anthology-nya mamang Ben Folds!!!

————-19/11/11————–

Baru nemu setlist ciamiknyah di sini dan setlist dibawah ini diambil dari siniiii

20111129-234542.jpg

seputar restoran pizza

Posting berikut sebenernya penting-gak-penting. Uhm…sebenernya gak penting-penting amat sih. Ok koreksi, saya akui, gak penting sama sekali.
Tapi pernah nggak sih ada satu pertanyaan yang terus-terusan mengganggu di belakang otak anda? Pertanyaan yang suka mendadak muncul di saat-saat random, meskipun terkadang hilang dengan sendirinya karena kita nggak tahu jawabannya?
Buat saya, sebuah jaringan restoran pizza yang cukup ternama selalu berhasil memicu salah satu misteri terbesar di muka bumi :
Kenapa selalu ada satu orang yang disuruh pake topi dari belitan balon panjang?
Ini beneran bikin penasaran deh. Soalnya dari semua pelayan yang ada, selalu cuma satu orang yang disuruh pake topi itu. Dan selalu cewek. Padahal udah nggak mungkin jadi kece aja kalo topi ajaib itu udah nyangsang di kepala. Trus ganggu kalo lagi pesen, karena ada yang tuing-tuing gitu.
Dan kesimpulan saya selalu akhirnya : pasti dia lagi dihukum. *melipat tangan dengan puas sambil benerin kacamata* Tidak ada alasan lain yang lebih masuk akal. Dia pasti trainee, terus masih kagok jadi suka mecahin piring, dan karena kasian kalo gajinya dipotong buat ganti rugi, makanya dia dihukum suruh pake topi itu.

Beberapa hari lalu, teman saya memberikan jawabannya. Ternyata hipotesa saya salah. Satu orang yang disuruh pake topi balon culun itu

ternyata

adalah

untuk menandakan

bahwa

dia
,..
PETUGAS PEMBUAT BALON.
Huuuuuuh. Gak keren ah ternyata penjelasannya. *misuhmisuh*

tentang berlari

Hidup adalah lari marathon, katanya.

Hidup adalah ujian, kata mereka.

Tapi mungkin tidak ada yang lebih ciamik menggambarkan hidup dari celetukan teman saya yang (seringkali) mendadak cerdas ini. Katanya :

Hidup itu ibarat ujian praktek lari. Kita disuruh lari sekian putaran, trus pas di tengah jalan kita sering kecapekan gak kuat, treak-treak ke Pak Jemmy “Paaaaaak ga kuat paaaaaaak”. Pak Jemmy-nya diem aja sambil terus ngasih nilai dan nyatet waktu. Ada yang masih terus lari, ada yang akhirnya brenti sambil ngeluh bilang “Udahaaaaan paaaaaak”…. Jadi kayaknya kalo Tuhan diem aja pas kita minta tolong sesuatu, itu artinya kita masih ditengah-tengah masa ujian

TANG!!!!! Suka mendadak keren gini deh ah tu anak. Oiya, background information dikit. Jadi alkisah si temen yang saya kutip ini temen saya dari SMA. Dan Pak Jemmy yang disebut di atas itu guru olahraga SMA kita yang cukup fenomenal dengan kemampuannya melakukan kayang dari posisi berdiri. Sekian informasi gak penting sekilas lalu.

Ah tapi yang lebih penting sih moral of the story-nya ya kayaknyah. Kudu sabaaar kalo lagi ujian. Berusaha sebaik-baiknya sampe titik finish. *sokbijak* *betulinkacamata*

 

meniru tommy page

Mm dr judulnya, bukan bermaksud nostalgila syalala tentang salah satu idola mas mas ganteng dimasa kecil. Pembelaan diri; iya saya pernah terjebak dlm fase suka muka-muka ‘pretty boys’. Tapi menjelang remaja saya insyaf karena ga terima kok cowok2 ini lebih cantik dari saya.
Anyway entah mengapa, terkadang cara terbaik untuk menyusut tangis adalah menjadi bahu tempat orang lain bersandar (sambil nangis).
Dibilang schadenfreude sih bukan ya, karena bukan kesenangan yg didapat dr kesedihan orang lain. Mungkin lebih tepat dibilang merasa ditampar untuk tidak terlalu larut dalam drama, ketika diluar sana banyak orang lain yang juga punya masalah, yang mungkin justru lebih ‘nyata’ dari (apa yang kita anggap sebagai) masalah kita.
Mungkin juga karena terkadang ada orang-orang yang butuh jadi ‘jagoan’, yang harus menjadi lebih kuat untuk orang lain.
Apapun, terimakasi ya buat seorang neng manis yang menyelamatkan gw dari mellow-mellow tidak manis meskipun manja. You may think I saved you from crying. In reality you saved me.

the other side of someday

The ideal weekend would consist of the following (or combinations of it), in no particular order :

Witty repartee
Soul baring conversations
Stargazing in wee hours
Sunrise watching
Sleeping in
Waking up to familiar aromas
Being encased in someone’s arms
Wearing a significant others’ oversized yesterday clothes
Making breakfast for two
Long brunch spiked with silent contentment
Road trips into the sunset
Cloud watching
You.

*please insert girly longing sigh while staring out of the window here*

So much for the manifesto. *kicks self in mid air*

Road Trippin’

Beberapa tahun lalu saya pernah menulis ini

Dan akhir minggu kemarin, saya kembali diingatkan betapa berharganya kesederhanaan interaksi tanpa pretensi.
Road trips, buat saya, selalu menjanjikan. Mungkin karena selama perjalanan kita terputus dari dunia luar, “terperangkap” dalam sebuah kotak kecil beroda. Mungkin karena dalam keterperangkapan itu, yang bisa dilakukan untuk membunuh waktu hanyalah mendengarkan musik dan/atau mengakrabi teman seperjalanan. Apapun itu, saya selalu bersemangat menyambut setiap road trip.
Nah tapi kembali ke masalah ‘keterperangkapan’ dengan teman seperjalanan, maka sebuah road trip hanya akan menyenangkan apabila teman seperjalanan kita memang menyenangkan. Minimal : kooperatif, enak diajak ngobrol, selera musik yang sama, minat pit stop yang sama. A road trip is only as good as the people you take on it. And I couldn’t say it better than
this post by one of yesterday’s road trip buddies.

Buat saya highlightnya adalah, ketika tersadarkan bahwa liburan kemarin betul-betul menggambarkan post saya diatas.
Perjalanan diawali bersamaan dengan terbit matahari di sebuah sabtu pagi, dan diakhiri seiring terbenam matahari minggu. Saya berangkat dengan 7 orang teman dan 2 orang ‘temannya teman’, lalu pulang dengan 9 orang teman.

ternyata aku tidak merindu teknologi, remah-remah hidup yang berkedok modernisasi
Selama 2 hari, tidak sekalipun televisi dinyalakan. Hiburan kami sederhana : makan bersama, bernyanyi bersama, tertawa bersama. Ada untungnya juga bahwa dalam rombongan kali ini terdapat 1 mantan MD radio kampus, 2 anak band, dan 2 anggota paduan suara. Dimanapun, kapanpun, setiap lagu familiar mendadak memicu singalong session yang terkadang bahkan dilengkapi dengan bagi suara.
Dan perjalanan ini sukses membuat kami tersenyum semanis Yamin dan tertawa selebar pangsit… Mohon maap kalo ga ngerti, memang SamPingPong dengan salah satu fotografer kami yang senantiasa memberikan aba-aba ajaib. *please pardon the inside jokes*

rupanya cukup kopi dan roti, tertawa sambil menghirup udara pagi
Meskipun tidak ada roti (dalam kasus kali ini boleh lah ya digantikan tahu goreng, kerupuk dan sambal kecap), namun momen terbaik untuk saya adalah melewati pagi dengan super duper long brunch, di teras yang dilengkapi dapur dengan pemandangan asri menghijau, diiringi lagu-lagu default generasi 90an. *maap kalo seperti lebay, tapi memang tempatnya sungguh cantik dan nyaman*

rupanya cuma butuh kalian, teman, cerminan serpih jiwa, untuk ajak aku tersenyum hari ini
Terima kasih teman-teman :)