Cukup

Pagi di tepi jalan utama Jakarta, seorang laki-laki terduduk di trotoar. Dikelilingi dagangannya, entah apa, yang terlihat cuma warna-warni dan kilau plastik. Robot-robot kota Jakarta lalu lalang tanpa sedikitpun menoleh. Laki-laki itu sendiri, sebuah eksistensi sepi di sela padat ibukota.

Benarkah?

Ia kini sedang bernyanyi, lantang, meskipun sumbang. Tentu senandungnya bukan untuk uang, karena ia pedagang. Tak nampak wadah receh yang biasa disediakan pengamen. Pun ia tak tampakkan wajah memelas meminta iba.

Ia kini sedang bernyanyi, lantang, namun riang. Untuk dirinya sendiri. Untuknya temani hari.

Di dalam sedan istimewa tempat saya tak perlu duduk di muka, saya sedang sibuk merutuk rutinitas budak korporasi yang terasa membebani. Tamparan hari ini datang halus-halus dari nyanyian seorang laki-laki. Lantang, sumbang, namun riang.

Bahagia adalah abstraksi tanpa standardisasi ukuran.

Dan nyanyian laki-laki itu mengingatkan saya, bahwa bahagia adalah cukup. Dan berkecukupan bukan semata ‘berkata’ cukup. Semoga saya sampai pada titik dimana lebih besar rasa syukur daripada rakus. Titik dimana apa pun yang ada saat itu bisa saya maknai dan syukuri sebagai sesuatu yang cukup.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s